Terdengar suara bukan kokokan ayam namun melengking tajam. “BINTANG!!!!, BANGUN BINTANG!!! Sudah subuh”. Suara itu datang dari rumah yang ukurannya tidak terlalu lebar dan juga lebih tidak mewah.
“Um….ngghhhhh, ok, aku bangun”, kata seorang pemuda yang mulai beranjak dari kamar tidurnya. Terlihat kamar yang isinya bercampur aduk ditinggalkan jua. Pemuda itu berjalan menuju ke bak mandi. Dengan mata sipit dan langkah yang semboyongan tanpa bersusah payah dia masuk ke kamar mandi itu.
Uweruweruweruwer, kolohkolohkolohkoloh,huaarrghcii, keluarlah semua isi setelah dia berkumur kumur. Setelah mengira bersih dia mulai berwudhlu. Hanya selang beberapa menit dia keluar dari kamar mandi dan menuju ke kamar tidur. Sholatlah ia dengan khusyuk.
Kira kira jam 6 pagi terdengar suara jeritan lagi. “BINTANG NI JAJAN SUDAH MATANG TOLONG DIANTAR SUDAH JAM 6”. Dengan wajah pucat kagetlah pemuda itu kalau dia tertidur setelah sholat. “Iya jalan”, teriaknya sambil berjalan menuju kesana.
Sampailah ia ketempat itu terlihat beberapa kompor yang menyala , wajan diatasnya yang berisi penuh dengan jajan yang sedang dimasak. Terlihat seorang wanita yang sudah terlihat tua duduk diantara kompor kompor itu bak nahkoda sedangkan seseorang yang menjerit tadi itu adalah seorang wanita yang lebih muda dari wanita nahkoda itu. Wanita yang muda itu duduk didepan jajan yang sudah matang.
“Ni buat mbah Marni dan yang ini buat mpok Siti sedangkan yang ini buat Bu Endang”, kata seorang wanita yang muda terhadap bintang.
“Ini, ini, ini, Ok. Ada lagi kak?”, Tanya bintang terhadap wanita muda itu.
“Udah itu dulu lainnya menyusul”, kata kakak bintang.
Seorang wanita yang tua itu menyeru “hati hati kalau nyebrang rel kereta lihat kiri kanan”.
“Ya bu”, jawab bintang kepada wanita yang sudah tua itu.
Bintang berjalan menghindari dapur itu. Kini dia mengarahkan kakinya ke pintu utama rumah singgasana peninggalan nenek moyang. Pintu itu dibuka dan “hmmmmmmm…….segaarr udara dipagi hari”, gumamnya dalam hati.
Terlihat di depan rumah sekelompok tanaman yang hendak berbunga namun kusam. Tanah tanah pijakan tanaman itu Nampak kehausan seperti terbakar bulan dimalam hari.
“Pasti kakak lupa menyiram sore hari jadi tanaman ini lesu dan tanahnya kebakaran sinar bulan”, gumamnya dalam hati.
“Kakak!!, tanamannya kering disiram ya”, teriaknya sambil menjauhi rumahnya.(Bersambung)
by : Achmed Junior
Posting Komentar
Kritik dan Saran sangat diharapkan :D ..